Makassar Biennale 2025: Melampaui "Studium", Mengejar "Punktum" di Balik Dinding Beton
MAKASSAR, MAF. Di tengah hiruk-pikuk pusat perbelanjaan Nipah Park, Makassar, dinding-dinding beton yang bisu kini berubah menjadi medan peristiwa. Dalam perhelatan Makassar Biennale (MB) 2025, para seniman mural tidak sekadar memajang gambar untuk dipahami sebagai dekorasi atau narasi budaya semata (studium). Lebih dari itu, mereka mengejar sebuah sengatan visual; sebuah punktum yang melampaui pemahaman umum dan langsung menusuk kesadaran pengunjung.
Hal ini menjadi benang merah dalam diskusi Artist Talk daring yang disiarkan langsung dari lokasi pameran, Minggu (29/11/2025). Diskusi yang dipandu Direktur Makassar Biennale, Irfan Palippui, menghadirkan seniman Dally Mozardy dan kolektif Muraya Studio (Wahyu Dinda Hidayat dan Baby Natalia).
Menolak Sekadar Dimengerti
Irfan Palippui menyoroti bahwa intervensi artistik di ruang publik seperti Nipa Park memiliki tantangan tersendiri. Pengunjung biasanya datang dengan tujuan transaksional, bukan untuk berkontemplasi. Oleh karena itu, karya seni harus memiliki daya ganggu.
"Mural ini bukan sekadar tentang tema maritim atau ekologi yang bisa kita baca dan pahami secara umum sebagai sebuah pengetahuan atau studium. Jika hanya itu, ia akan lewat begitu saja," ujar Irfan.
"Karya ini harus memiliki punktum. Ia harus menjadi sesuatu yang melampaui studium; sebuah detail, warna, atau goresan yang tiba-tiba 'menyengat' mata, melesat keluar dari bingkai pemahaman umum, dan memberikan pengalaman personal yang sulit dibahasakan bagi siapa pun yang bertatapan dengannya," tambahnya.
Tradisi "Nakal" Dally Mozardy
Upaya menghadirkan sengatan itu terlihat jelas pada karya Dally Mozardy. Mengusung gaya visual yang eksplosif, Dally tidak menyajikan simbol tradisi (seperti pui-pui atau juku eja) dalam wujud yang "sopan" dan teratur. Sebaliknya, ia menghadirkan figur kuda yang berlari kencang, setengah abstrak, dan seolah menabrak batas-batas panel pintu yang ada di dinding.
Bagi Dally, pendekatan ini adalah bentuk "tradisi nakal". Ia tidak ingin tradisi dipahami sebagai benda mati di museum (studium), melainkan sebagai energi yang hidup dan liar.
"Saya menggunakan warna kontras dan garis tegas sebagai simbol bunyi yang bising. Ini bukan soal memahami alat musiknya apa, tapi merasakan getaran nilainya di tengah modernitas yang membuat kita terlena," ungkap Dally. Panel yang menghalangi gambarnya justru ia biarkan, menjadi bagian dari teks visual yang menegaskan bahwa hambatan adalah bagian dari realitas yang harus direspons, bukan dihindari.
Oase Surrealis Muraya Studio
Kontras dengan Dally, kolektif Muraya Studio yang digawangi Wahyu Dinda Hidayat dan Baby Natalia memilih jalur sunyi untuk mencapai punktum-nya. Mereka menghadirkan visual surrealis: sosok perempuan dengan kepala sekumpulan bunga mekar dan burung merpati yang terbang bebas.
Di sinilah letak kekuatan karya mereka. Di tengah studium ruang mal yang serba cepat, komersial, dan kaku, kehadiran visual yang puitis dan lembut justru menjadi anomali yang "menusuk".
"Di tengah beton yang keras, kami ingin memberikan jeda. Gambar ini mengajak orang melambat, menyadari hal-hal kecil," kata Baby Natalia. Sebagai satu-satunya seniman mural perempuan dalam proyek ini, Baby juga mematahkan stereotip maskulinitas dalam street art lewat goresan yang luwes namun berkarakter kuat.
Wahyu menambahkan, penggunaan warna neon dan efek tiga dimensi (3D) juga disengaja untuk memanipulasi persepsi ruang, menciptakan ilusi optik yang memaksa mata pengunjung untuk berhenti sejenak dan mempertanyakan apa yang mereka lihat.
Seni sebagai Peristiwa
Pada akhirnya, kehadiran mural di lantai 1, 2, dan 3 Nipah Park selama Makassar Biennale 2025 ini adalah sebuah tawaran pengalaman. Irfan menutup diskusi dengan menekankan bahwa seni di ruang publik berfungsi melahirkan disensus, sebuah ketidaksepakatan indrawi yang memaksa kita melihat ulang realitas.
Karya-karya Dally, Wahyu, dan Baby tidak meminta pengunjung untuk sekadar setuju atau mengerti (studium), tetapi mengundang mereka untuk merasakan sengatan (punktum), entah itu rasa kaget, haru, atau asing, yang mungkin tertinggal lama setelah mereka meninggalkan gedung perbelanjaan tersebut.