Selayang Pandang Kurator Makassar Biennale 2025

Selayang Pandang Kurator Makassar Biennale 2025

Assalamualaikum Wr. Wb.

Yth. Bapak Walikota Makassar, bapak Munafri Arifuddin, atau yang mewakili,
Yang kami hormati, Rektor Kalla Institute beserta jajarannya,
Yang kami hormati bapak Profesor Tom Murray sebagai narasumber Simposium pada hari ini,

Yang kami hormati pula Pendiri Makassar Biennale, Direktur Makassar Biennale, para Kolega Kurator
Makassar Biennale, serta kawan-kawan panitia,
Yang kami muliakan dan banggakan: Seluruh seniman, budayawan, pegiat komunitas, dan rekan-rekan pemerhati dan pendukung bersama Makassar Biennale 2025.

Salam Sejahtera untuk kita semua. Rasa syukur yang tak terhingga kepada yang Maha Agung, sang Pencipta alam semesta, yang telah memberikan akal pikiran, rasa, dan kebersamaan untuk menjadi bagian yang diperhitungkan dalam perjalanan politis, estetis, kultural bangsa, setidak-tidaknya pada apa yang kita lakukan saat ini di kota Makassar.

Hadirin sekalian,

Makassar Biennale 2025 adalah sebuah peristiwa ‘unjuk rasa’ (demonstrative event). Ia merupakan momen “eventual”—meminjam terminologi Alain Badiou—sekaligus sebuah kebangkitan (revival).

Tujuannya adalah untuk "menghentakkan" rasa estetis-politis kita terhadap tatanan sosial yang ada. Tatanan yang selama ini membungkam mereka yang sejatinya mampu berucap; tatanan yang tidak (atau tidak mau) mendengarkan jeritan mereka.

Oleh karena itu, Makassar Biennale hadir di tengah kota, di pusat-pusat konsumsi dan kesenangan (pleasure). Kehadirannya bertujuan untuk memberi jeda serta menguji kapasitas ‘rasa-merasa’ dan nurani kita. Pada saat yang sama, ia hadir untuk mengganggu kenyamanan kita atas segala praktik ‘distribusi kelayakan’ dan ‘pembagian-pembagian’ yang—sengaja ataupun tidak—telah kita ciptakan dalam tatanan sosial politik kita.

Dengan mengambil estetika seni sebagai jalan praktik emansipatoris dan subjektivasi, kami akan melaksanakan berbagai kegiatan di ruang-ruang publik Makassar. Rangkaian ini dimulai dengan Simposium hari ini, yang kemudian dilanjutkan dengan berbagai agenda lain seperti: Screening Film, Live Mural para Seniman, Pertunjukan Seni, Forum Kurator, Art Talks, Kelas Penulisan, hingga Workshop Arsip.

Sebagian besar kegiatan Makassar Biennale 2025 ini merupakan seruan nyaring akan kesetaraan dan emansipasi. Kami ingin menegaskan bahwa kota Makassar adalah milik kita semua; bahwa kota ini adalah hak kita semua. Ini adalah hak untuk mengambil bagian, hak untuk bersuara, hak untuk didengarkan, dan hak untuk berpartisipasi demi kebaikan bersama sebagai summum bonum.

Kontribusi aktif para rekan seniman di pusat komersial hari ini adalah manifestasi hak atas kota (right to the city). Ini adalah perwujudan hak untuk memberi ‘rasa’ dan ‘kejutan’ pada ruang-ruang kenikmatan konsumtif yang seringkali meninabobokan kita ke dalam kenyamanan semu.

Dengan demikian, jalan estetika seni yang ditempuh pada dasarnya adalah jalan kesadaran politis (the political) bagi para demos (rakyat)—yakni bagi para seniman, budayawan, dan kita semua. Jalan ini bertujuan untuk menampakkan kesetaraan, sekaligus menginterupsi apa yang selama ini telah terdistribusikan secara tidak setara dalam masyarakat kota Makassar.

Semoga Makassar Biennale 2025 ini dapat menjadi ruang kolektif-kolaboratif seni untuk kebaikan bersama, dan memohon doa bersama agar penyelenggaraan kegiatan pada hari ini hingga beberapa hari ke depan dapat berjalan sukses dan lancar. Aamiin ya rabbal alaamiin. Demikian, terima kasih. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Makassar, 17 November 2025

Kurator Makassar Biennale 2025,
(Aslan Abidin, Andi Faisal, Irwan AR)